Seharusnya krisis financial negara serakah seperti USA, akibat kredit rumah macet, yang banyak merobohkan Bank – Bank serta Badan Keuangan elits di USA dan beberapa negara Eropa, tidak berpengaruh ke Indonesia. Namun sayang, karena banyaknya ketergantungan kita ke negara Usa dan beberapa Eropa. Yakni, Ekspor. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus menerima bahwa Ekspor kita turun, karena permintaan yang semakin turun.
Imbas itu mulai terasa, sekarang Petani Sawit dan Karet menjerit, harga komoditi andalan mereka ber-Bogie Jumping ke titidk nadir terendah. Harga Tandan Buah Segar / TBS sekarang berkisar 400 – 300 rupiah / Kg, sangat jauh di bandingkan saat harga itu mampu menembus 2500 rupiah / Kg . Begitu juga dengan komodti karet, yang merupakan andalan daerah jambi, berkiras antara 4000 – 3000 rupiah / kg, juga sangat jauh dibandingan harga normal dikisaran 10000 rupiah.
saat 1997, Indonesia di guncang krisis Moneter yang di picu, jatuh temponya, utang negara dan si Soros, yang berspekulasi, petani sawit dan karet masih bernafas, lega karena harga komoditi ini stabil malah cenderung naik. Namun kini, saat krisis Financial Global mereka ambruk, karena jatuhnya nilai komoditi mereka.
Imbasnya, bukan hanya dirasakan, oleh petani karet dan sawit saja, pedagang Pupuk, juga mengalami imbasnya. seperti curhatannya seorang teman kecilku, yang berbinis Pupuk dan alat pertanian. Mereka juga mengalami dampaknya, pupuk mereka tidaklaku. Tunggakan ke Bank, Leasing juga mungkin sudah mulai terjadi. Disaat penghasilan mereka turun dan mereka harus juga membayar tagihan kredit mereka, baik berupa pinjaman modal, untuk mengembangkan usaha mereka, maupun kredit kendaraan dan elektronik.
Mungkin, bukan hanya petani Sawit dan Karet saja, yang merasakan dampaknya,petani komoditi andalan ekspor lainnya, pengrajin mebel juga sudah pada menjerit. Jika ini tersu berlanjut, takutnya negara kita akan mengalami krisis yang lebih parah dari tahun 1997.
Jika itu terjadi, akankah pedagang kecil, emperan, kaki lima yang saat krisis 1997, berjaya di tengah badai krisis menjadi pahlawan pergerakan ekonomi rakyat. Ya..mereka lebih kuat di bandingkan para Konglomerat saat krisis 1997.
Kali ini akankah mereka bisa juga menahan badai krisis financial global?
Jangan sampai Indonesia mengalami seperti halnya Islandia, sebuah negara di eropa, yang Bangkrut akibat krisis ini.
ayo semangat pemerintah..dan berikan waktu untuk pemerintah mengambil langkah – langkah bijak nya, untuk mengatasi imbas krisis global yang mulai terasa ini. Tak ada jalan lain, kita harus bersatu untuk mengatasinya..layaknya semangat persatuan, bahwa kita satu, kita satu bahasa, satu jiwa seperti yang tercetus oleh para pemuda pelopor perjuangan bangsa.
Salam Sumpah Pemuda
DIarsipkan di bawah: Sebuah Tulisan | Ditandai: karet, krisis global, krisis moneter, mebel, petani, sawit








Aku sih let it flow ajah ah…bukan orang ekonomi, bicara solusinnya bikin confused teruuuuuuz. Lebih mudah meprediksi prakiraan cuaca. ASLI
lah justru pedagang kaki lima itu penyelamat ekonomi. coba kalo semua penduduk ini makan di kaki lima dan warteg-warteg, kan rupiah akan berputar-putar di dalam negeri saja, ngga sampe ke luar negeri dan mesti ditukar dollar, hanya karena sok-sokan makan di resto franchise atau hotel bintang lima yang bahan bakunya kudu impor…
Kalo mau selamat,
jadi petani aja
tapi jangan petani karet atau petani sawit
tapi petani sayur mayur
gak ngaruh tu
he
Gimana nih cara atasinya….
Kasihan rakyat kita….
tanya ama pemerintah…..sebagai rakyat kita harus berhemat dan berusaha