Wrote By Me: Thevemo
Bus yang membawaku dalam perjalanan ini melaju di tengah heningnya malam. Pejalananku kali ini adalah perjalanan untuk pertama kalinya. Setelah sekian lama aku tinggalkan sebuah tempat dimana aku merasakan indahnya masa kecil . Dan semua kenangan yang ada di dalam memori otakku. Ya waktu 2 tahun adalah waktu yang tidak sebentar untuk meninggalkan semua kenangan ini. Kulirik arloji yang selalu melekat di lengan ku, waktu menunjukan pukul 2 dini hari. Berarti sekitar 4 jam perjalan lagi yang dibutuhkan untuk aku tiba di kampung halaman tercinta.
Aku masih ingat, ya aku ingat waktu aku pergi meninggalkan kampung halamanku, ketika semuanya kutinggalkan, kedua orang tuaku, adikku dan semua orang – orang yang mengenalku. Rasa kantukku belum juga hilang meski sejak dari penyeberangan tadi aku tidur, mungkin rasa lelah yang membuat ku begini. Kulihat ke sekeliling, semua penumpang terelelap pulas di bangkunya, dan kulihat pak sopir berkosentrasi mengendarai laju bus yang membawa kami. Kuambil sebotol air mineral yang kubeli kemarin sebelum perjalanan pulang, lelah merasuki semua sekujur tubuhku. Ya tentu saja!. perjalanan panjang ini memakan waktu 2 hari perjalanan darat. Suatu pekerjaan yang membosankan tentunya bagi yang tidak terbiasa, namun aku begitu menikmatinya. Ya sekedar untuk mereply kembali pengalaman pertamaku ketika berpergian jauh. Perasaanku berkecamuk untuk segera saja tiba di kampung halamanku. Aku sangat rindu orang tuaku, adikku, teman – temanku, terlebih lagi sahabatku. Sahabat, saudara, itulah arti Vemo bagiku. Entah kenapa akhir – akhir ini aku teringat terus kepadanya, perasaan ini masi sama sewaktu kami harus berpisah setelah menyelesaikan pendidikan SMU. Aku harus keluar kota bahkan harus menyeberangi pulau untuk melanjutkan cita – citaku. Sedangkan dia, meneruskan impiannya di kota dimana kami tinggal. Aku sudah berulang kali membujuknya untuk menggapai impian bersama. Namun seperti biasa dia selalu tersenyum simpul mendengar ajakanku itu. Di e-mailnya yang terakhir dia bercerita bahwa dia kangen dengan aku juga, dan pengen berlibur ke tempatku. Namun mungkin aja itu hanya keinginan yang bisa terwujud. Dan ketika aku menelpon dia, untuk mengabarkan liburan beberapa minggu sebelum Kejuaraan Nasional antar-Universitas besok. dia menanyakan koq aku tidak pulang naik pesawat aja, biar cepat katanya. Dia juga menjanjikan bahwa pertemuan di pinal besok hanya aku dan dia,diakan menantiku. Di telpon dia bercerita panjang lebar, tentang kegiatan kuliahnya dan kesibukan latihannya untuk menghadapi kejuaraan nasional. Setelah ngomong panjang lebar sekedar melepas rasa kangen, aku memintanya menjemputku di terminal. Dia hanya menjawab insyah Allah jika dia sempat.
Mataku mulai terasa berat, perlahanku mulai memejamkan mata seraya mengambil selimut untuk membungkus badanku dari dinginnya AC bus ini. Ketika agak terlelap, tiba – tiba handphone di dalam tas kecilku yang berwarna biru berbunyi. Kuraih handphoneku dari dalam tas. Kulihat dari Vemo, kuangkat ,”Hai, koq nelpon jam segini?”, “aku masih dalam perjalanan nich!”, kataku sambil menahan kantuk yang luar biasa. Terdengar olehku suara dari seberang sana, sedikit lemah dan tidak bergairah. “Ton maafin aku ya? aku gak bisa jemput kamu pagi ini”. “Kenapa?” kataku dengan nada kecewa”. “Aku ada urusan yang gak bisa aku tinggalkan!”. “Ya gak apa – apa” kataku. “Emang kamu mo pergi kemana Mo?”, “mau kencan sama cewek mu ya?”candaku. “Pokoknya ada aja”!. “Udah dulu ya Ton!”. “Aku rindu kamu sobat!” katanya lagi, “hati – hati di jalan!”. “Yup” kataku , “thanks ya…..”
Setelah usai nerima telpon dari Vemo aku kembali melanjutkan tidurku yang tertunda. Bus terus saja melaju dengan kecepatan yang sedang.Dinginnya malam memaksaku tuk terbuai bisikannya dalam dunia bawa sadarku. Di dalam mimpi aku terbang seolah aku kembali ke masa kecilku. Pertama kali kenal dengan Vemo sewaktu di kelas satu SD. Ketika hari pertama kami menjejakan kaki di SD. Waktu itu aku dan Vemo berantem hanya karena rebutan kursi yang paling belakang. Akhirnya di mengalah dan kami duduk satu meja. Sejak saat itu kami selalu bersama. Kemana dimana ada aku disitu pasti ada Vemo, begitu juga sebaliknya. Tak jarang kami juga berantem hanya gara – gara beda pendapat, tapi itupun tak berlangsung lama. Setelah itu kami jadinya baikan dan kamipun smakin dekat. Vemo adalah sahabat sejatiku. Dia selalu ada kala aku sedih, di kala semua teman – temanku menjauh diriku, dikala aku bahagia. Dia hanya bisa tersenyum. Saat aku bimbang dan terjatuh di memberiku semangat untuk menatap kedepan dan memahami arti hidup ini. Dia selalu mengalah dalam hal apapun. Hanya di bidang sepak bola saja dia tidak mau mengalah. Kami selalu saja bersaing, walapun kami berada dalam satu tim, dan bukan kebetulan posisi kami pun sama, yaitu sebagai penyerang. Jadilah kami duet yang sehati. Aku masih ingat kejadian itu kala kami tersisih di penyisihan wilayah. Saat itu kami duduk di kelas 3 SMU. Dan itulah harapan terakhir kami untuk bisa maju ke Tingkat Nasional, setelah selama 3 tahun berjuang keras untuk membangun tim sepak bola ini dari dasar. Vemo sangat terpukul dan sedih. Impiannya untuk melangkah lebih jauh kandas.lah dijalan.
Aku terbangun ketika kondektur bus membangunkan aku, “Mas udah nyampe, mas!”, perlahan kubuka mataku, kutatap kondektur tu, dia hanya tersenyum. Kulihat jam di tanganku, jarum yang panjang tepat di angka 12 dan jarum kecil di angka 6. Ah pukul 6 pagi gumannku. Setelah menguap dan meregangkan badanku sebentar, aku mulai beranjak dari kursi yang kududuki. Lega rasanya, aku bisa sampai, tepat waktu lagi. Benar – benar mengutamakan kualitas pikirku. Aku beranjak untuk turun dari bus, menanti kondektur mengeluarkan semua barang penumpang dari dalam bagasi. Kuambil travel bag berwarna hitam bertuliskan Final Wilayah Kejuaran Sepakbola Antar SMU. Ya travel bag ini kudapat waktu aku bertanding bersama Vemo di final wilayah. Kuletakkan tali travel bag ini di pundakku dengan posisi menyilang. Kemudian aku melangkah untuk mencari angkutan yang menuju rumahku. Tak kuhirauhkan bujukan rayu orang – orang yang menawarkan jasa, jasa angkut. Sesampai di depan pintu keluar terminal.aku menguap satu kali, rasa kantuk dan letih belum juga hilang pikirku. Kuhampiri tukang ojek yang sedang mangkal di pojokan gerbang terminal. “Bang ke Jalan Manggis berapa bang?” tanyaku, “10 ribu!” jawabnya singkat. Tanpa menawar lagi aku mengiyakan harga yang diberikan tukang ojek itu. Kemudian aku naik. 20 menit kemudian aku tiba di rumah. Kuketuk pintu dengan penuh rasa yang berkecamuk. Senang, rindu dan sebagainya. Tak lama pintu di buka. Kulihat seraut wajah yang bersih penuh kerutan di keningnya. “Ma! apa kabar ma?”, tanyaku, seraya memeluk mamaku. “Mama baik!” “Bagaimana kamu?”, “Baik ma!”, papa mana?” tanyaku, “Papa sudah berangkat kerja” jawab mama. Setelah melepas rindu dan ngobrol sebentar sama mama, aku masuk ke kamar yang sudah dua tahun kutinggal. Kulihat adikku masih tertidur dengan pulasnya, aku tak mau mengganggunya. Pikirku pasti dia habis bergadang. Kurebahkan tubuhku di atas busa yang terbungkus seprai berwarna biru muda. Aku rebahan seraya kupandangi fotoku yang terpajang di dinding kamarku. Kulihat senyuman Vemo dan aku, ketika kami menjuarai Kejuaran Tingkat Propinsi. Sebentar saja aku istirahat, lalu aku mandi. Selesai mandi aku menemani mama yang sedang menyiapkan sarapan pagi. Sambil bercerita kemana – kemari aku menyantap hidangan yang disajikan mama. “Ton! kata mama!”, pelan dan lembut. “Sebenarnya mama tadi malam mau menelpon kamu!”, “tapi hp kamu diluar jangkauan”. “Kenapa, Ma?”, tanyaku ingin tahu, mama kemudian diam sejenak, “begini Ton lanjut mama”, kemudian mama diam lagi, “ada apa ma?” tanya ku gak sabaran, “tapi kamu harus dengar baik – baik”,”dan…” “dan apa ma?” tanyaku lagi, “kamu harus tabah Ton!”, “emang kenapa ma?” tanyaku semakin penasaran dan was was kal kalo ada sesuatu yang buruk terjadi. “Vemo telah meningalkan kita Ton, kata mama dengan suara yang berat. Seperti di sambar petir ku merasa gak percaya dengan kata – kata mama, “yang benar ma?” kataku dengan suara gak percaya, “benar Ton, vemo meninggal karena kecelakaan tadi malam”, “bus yang ditumpanginya bersama rombongan tim bola kampusnya terbalik” “sehabis mereka beruji coba”.”Gak mungkin, gak mungkin ma!”, kataku, akulihat air mata mama mulai menetes, aku pun mulai meneteskan cairan bening dari mataku, “tadi malam dia baru saja menelpon Toni, ma!” kataku dengan suara terisak. “Ton!” kata mama, “kamu harus tabah ya”, “mama juga sedih, vemo sudah mama anggap sebagai anak mama juga!”, kata mama sambil memelukku, “tapi Toni gak percaya ma,….!” tangis ku.
Ku hempaskan tubuhku di sofa ruang tamu rumahku, kukeluarkan semua energi kesedihanku, aku masih saja tak percaya dengan semua ini, kejadiannya begitu cepat, rasa sesal ku, kenapa aku gak naik pesawat saja agar aku bisa ketemu Vmo untuk yang terakhir kalinya….
Setelah energi kesedihanku berangsur hilang, aku mulai mencoba menerima kenyataan ini, ku beranjak dari sofa sambil mengela nafas getir, kulirik jam di tanganku sudah menunjukan pukul 9 pagi. Terdengar suara mama memanggilku, “Ton mama sudah siap nih!”, “ya ma1″ jawabku, mama mengenakan kerudung hitam dan baju serba hitam, ya aku dan mama hendak pergi ke rumah Vemo, untuk melawat dan mengantarkan Vemo ketempat peristirahatan yang terakhir.
Suasana duka menyelimuti rumah sahabatku, aku di peluk mamanya Vemo, kuhibur dia sebisaku, karena aku juga sedih, papa Vemo kelihatan tegar walaupun di dalam hatinya sedih. Waktu menunjukan pukul 10 pagi ketika jenazah Vemo selesai di sholatkan dan siap di antar ke pemakamam, aku memaksakan untuk ikut menggotong keranda yang berisikan jenazah Vemo, walapun tubuhku letih.Ya terakhir kalinya buat sabahat terbaikku …..
Aku masih saja berdiri di depan gundukan tanah merah yang masih basah, kutabur bunga yang masih tersisa di genggamanku, kubuka lembaran buku yang dititipkan Vemo sebelum dia pergi untuk terakhir kalinya. Buku ini tadi di berikan papanya Vemo padaku, katanya ini adalah impiannya…, kubaca tulisan tangan yang rapi bertintakan perak
Shobat……
Banyak fajar lain yang setiap waktu datang silih berganti menyapa kita. Banyak nyanyian yang terucap dari kehidupan ini, dalam rentang tak berujung, dalam batas tak terlihat. Kau dan aku …selalu saja menatap batas yang tak bertepi, dan selalu membayangkan kita berada di sana, ingatkah kau sobat kala pertama kali kau tumpahkan mutiara matamu hanya untuk sebuah kegagalan itu. Kita pernah bersama untuk mendaki gunung yang tak berujung, menapak jalan yang tak bertepi, mengariskan goresan yang tak terlihat…namun semua itu tak bisa kita raih sobat. Kuingin kau bisa nyanyikan syair yang belum tercipta untukku sobat aku akan mendengarkannya…………..
Ku ingin fajar yang kita nanti datang menyapamu, kuingin kau berdiri di puncak yang tak berujung menatap meganya cakrawala dan menikmati fajar yang kita impikan……
Dan biarkan fajar menantimu…
Dari teman mu Vemo.
Kulihat lembar – lembar lainya, penuh dengan goresan sketsa aku dan Vemo mengangkat sebuah piala berlapis emas diantara sorakan dan teriakan penonton. Sambil tersenyum aku menutup buku pemberian vemo dan berkata. Slamat tidur kawan, dan dengarkanlah kan ku nyanyikan syair yang belum tercipta untukmu, kan ku gambar sebuah kemenagan untukmu dan untuk kita agar kita bisa berdiri di puncak yang tak berujung. Kemudian kutinggalkan pemakaman yang sudah sepi dan hening. Hanya ada aku dan gundukan – gundukan tanah lainya di sertai bunga kamboja yang sedang berbunga…..Ya sobat biarkan sang fajar menyapa!
DIarsipkan di bawah: Sebuah Tulisan







